Jumat, 16 Juni 2017

ILMUWAN TEMUKAN TUBUH MANUSIA MEMANCARKAN CAHAYA

Di saat kita memikirkan organisme bercahaya, hanya sedikit yang terlintas dalam benak kita. Contohnya makhluk hidup bercahaya seperti kunang-kunang dan ubur-ubur florescent, tetapi baru-baru ini ilmuwan mengetahui bahwa ternyata tubuh manusia juga memancarkan cahaya.
Melalui usaha gabungan dari para ilmuwan diTohoku Institute of Technology dan Kyoto University di Jepang, peneliti menemukan bahwa manusia sebenarnya adalah organisme hidup bercahaya.
Secara alami, cahaya yang dipancarkan tubuh manusia tidak terlalu terang. Bahkan cahaya yang dipancarkan tubuh manusia ribuan kali lebih redup dari apa yang bisa ditangkap mata manusia. Tetapi, ilmuwan menemukan bahwa dim cahaya redup florescenceini bisa ditangkap oleh peralatan ultrasensitif seperti kamera CCD (cryogenic charge-coupled-device).
Untuk bisa menangkap cahaya redup yang dipancarkan tubuh manusia ini, ilmuwan harus terlebih dulu mendinginkan CCD hingga 184 derajat Farenheit dan memotret subyek dalam ruang gelap. Cahaya tubuh manusia ditemukan pada tingkat satu foton.
Dalam kamar gelap, lima pria berumur sekitar 20 tahun, berdiri telanjang dada di depan kamera dan diambil gambarnya selama 20 menit tiap tiga jam dari pukul 10:00 – 22:00.
Peneliti dapat mendeteksi emisi ringan dari subyek dengan panjang gelombang 500-700 nanometer, mata manusia dapat menangkapnya dalam bentuk spektrum warna hijau dan merah.
Cahaya apapun, meskipun lemah, namun merupakan suatu fitur menarik dari suatu organisme. Tetapi manusia mungkin tidak spesial dalam hal ini, karena pendaran cahaya ada pada semua organisme hidup apapun.
Tetapi, sebuah studi lain yang dilakukan di Institut Internasional Biofisika di Jerman menemukan bahwa emanasi cahaya meningkat ketika subyek melakukan meditasi. Di sana mereka menemukan perubahan biokimia setelah subyek melakukan meditasi, peneliti mengetahui bahwa latihan meditasi menambah emisi foton manusiawi.
Emisi cahaya ultra lemah ini tidak berhubungan dengan temperatur. Namun berhubungan dengan rangkaian reaksi energi kimia yang rumit dalam proses metabolisme, yang memindahkan energi kefluorophores – komponen molekul yang bertanggung jawab untukfluorescence.
Tergantung dari jumlahfluorophores dan lingkungan mereka,fluorescence berbeda dalam intensitas dan panjang gelombangnya. Karena itulah mengapa peneliti mengamati bahwa emisi pada wajah lebih kuat dibanding tubuh. Dari pencahayaan seluruh tubuh, wajah adalah yang paling terang, sejumlah fluorophoresyang lebih banyak ditemukan di bagian wajah dibanding pada kulit bagian lain.
Peneliti juga menemukan bahwa emisi ringan ini berfluktuasi sepanjang hari, dengan cahaya paling lemah terjadi pada pukul 10:00 dan yang paling kuat pada pukul 16:00 Mereka percaya ini mungkin berhubungan dengan ritme keseharian tubuh manusia – biokimia jam internal kita bertanggung jawab mengatur proses fisik seluruh tubuh.
Menurut peneliti Hitoshi Okamura, ahli biologi sirkulasi keseharian diKyoto University, penemuan ini menyarankan bahwa emisi cahaya redup ini bisa menolong kondisi medis tertentu.

Sumber :
https://www.facebook.com/kuswanto.abuirsyad/posts/1731085486905816

Selasa, 06 Juni 2017

PERPECAHAN UMAT ISLAM



Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar adalah hadits yang berbunyi bahwa tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang masuk Surga’ disebabkan tiga hal:
1. Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan.
2. Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya; satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan batas.
3. Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau minimal menjadi separuh penghuni Surga.
            Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu:
1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.
4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
11. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.
12. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
13. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
14. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut :
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :
         Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”
Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’
            Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash) dari Sahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

 “Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”
Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:
            Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”


(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.”)
            Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

            Hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli di bidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ummat Islam ini berpecah belah, berfirqah-firqah (bergolongan-golongan), dan setiap golongan bang-ga dengan golongannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin:

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum 31-32)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Ada sebagian orang melemahkan hadits-hadits tersebut karena melihat jumlah yang berbeda-beda dalam penyebutan jumlah bilangan firqah (kelompok) yang binasa tersebut, yakni di satu hadits disebutkan sebanyak 70 (tujuh puluh) firqah, di hadits yang lainnya disebutkan sebanyak 71 (tujuh puluh satu) firqah, di hadits yang lainnya lagi disebutkan sebanyak 72 (tujuh puluh dua) firqah, dan hanya satu firqah yang masuk Surga.

Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih mendahulukan akal daripada wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah yang sah lebih tinggi dan jauh lebih utama dibanding dengan akal manusia. Wahyu adalah ma’shum sedangkan akal manusia tidak ma’shum. Wahyu bersifat tetap dan terpelihara sedangkan akal manusia berubah-ubah. Dan manusia mempunyai sifat-sifat kekurangan, di antaranya:

Manusia ini adalah lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Dan diciptakan dalam keadaan lemah.” QS. An-Nisaa’: 28)

Dan manusia itu juga jahil (bodoh), zhalim dan sedikit ilmunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesung-guhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” QS. Al-Ahzaab 72)

Serta seringkali berkeluh kesah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
"Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’aarij : 19)


Sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” (QS. Al-Fushshilat : 42)

Adapun masalah makna hadits yang masih musykil (sulit difahami), maka janganlah dengan alasan tersebut kita terburu-buru untuk menolak hadits-hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena betapa banyaknya hadits-hadits sah yang belum dapat kita fahami makna dan maksudnya.

Permasalahan yang harus diperhatikan adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui daripada kita. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih tidak akan mungkin bertentangan dengan akal manusia selama-lamanya.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa ummatnya akan mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga) firqah, semuanya ini telah terbukti.

Dan yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri mereka berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sah dan penjelasan para Shahabat dan para ulama Salaf, agar kita termasuk ke dalam “Golongan yang selamat” dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari kian berkembang.

Golongan yang selamat hanya satu, dan jalan selamat menuju kepada Allah hanya satu, Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am : 153)

Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya.

Secara syariat, bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa umat Islam dan umat umat lainnya, selalu terpecah  menjadi 73 golongan, dan ke 72 golongan itu akan masuk neraka, kemudian tinggal tersisa 1 golongan yaitu Ahlus Sunnah wal jama'ah. Dari sudut pandang hakekat, sebenarnya ke 72 golongan itu tersesat, dikarenakan mengikuti nafsu yang keluar dari 7 lubang di kepala dan 2 lubang di bawah perut. Hanya 1 golongan yang selamat dan yang benar yaitu yang mengumpulkan atau menjama'ahkan (berjama'ah=berkumpul) ke  72 golongan itu di 1 lubang yang ada di kening dengan 10 jari gerakan Takbir Al Ihrom..

Oleh karena itu, jadilah golongan yang berhasil menjama'ahkan  pengikut 7 lubang di kepala dan pengikut  2 lubang di bawah puser, dibawah pimpinan "Imam Besar Islam" yaitu Nur Muhammad yang bertahta di pusat sujud. Inilah golongan beriman yang selamat masuk ke dalam "Nurul Jannah".

HAKEKAT HARAM





          Entah sudah nasib, kodrat, kebutuhan, atau apa disebutnya, barang yang satu ini selalu diemohi : diusir-usir, dibuang disingkirkan, dan kalau perlu dihancurkan. Haram. Kehadirannya senantiasa tak dikehendaki. Ada, tapi harus segera enyah. Kalau dia, si haram, hadir, dengan atau tanpa dipanggil, dia disikapi seolah-olah akan membawa petaka besar, bencana mengerikan.

            Saat dia datang, dia harus segera dibubuhi tanda, tak ubahnya silang merah pada rumah calon korban bakar, untuk digerus selekas mungkin. Dan, sungguh, cap itu sudah terpampang jelas di majalah dinding serambi masjid. Tasawuf = haram. Sufisme = haram. Pemimpin non muslim = haram. Dan sebentar kemudian, kita tahu, bubuhan tanda itu segera membawakan tugasnya. Sekerumunan orang menyatroni rumah-rumah bersilang merah itu, dan lalu memekik kencang, “Enyahlah, kehadiranmu tak kami kehendaki”.Haram = enyah.

          Haram sudah menjadi password untuk melenyapkan selilit yang dianggap mengancam penafsiran diri atas ajaran; ia menjadi kunci inggris untuk segala upaya meminggirkan, menyingkirkan, menemukan versi lain pemahaman. Padahal konsep haram lebih banyak hadir dalam konteks klasifikasi makanan, bukan ragam manusia. Ya makanan, itu benda yang harus selalu kita asup agar metabolisme tubuh berkerja normal.

“sesungguhnya Allah”, demikian bunyi al-Baqarah (2) : 173, “hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah…..”

            Simaklah baik-baik, Al-Qur’an bicara makanan haram/makanan halal, tapi tidak bahas soal manusia haram/manusia halal, ajaran haram/ajaran halal, maupun gagasan haram/gagasan halal. Jika pun konsep haram tetap dipaksakan dalam konteks gagasan, anak muda sekarang barangkali akan berujar, “Gagasan haram? Loh, emangnya makanan!”.

            Mungkin terkesan asal, tapi ungkapan anak muda semacam itu bisa menjadi serius. Di dalam Al-Qur’an, kata dengan akar ha-ra-ma disebut sebanyak 83 kali. Dan nyaris separuhnya muncul dalam konteks makanan. Al-Qur’an biasa memakai kata-kata hurima alaikum… (diharamkan atasmu…..) atau harrama lakum… (Dia telah mengharamkan bagimu…) dan kemudian menyebut makanan atau minuman secara spesifik, atau terkadang kategori saja. Seperti ayat yang dikutip di atas.

            Yang menarik, penyataan haram itu bisa dikata sekedar catatan pinggir saja, sedangkan intisarinya atau titik beratnya adalah dipersilahkannya manusia untuk menikmati sekali lagi menikmati bukan mengemohi rezeki dan anugerah Tuhan berupa makanan nabati maupun hewani. “Hari orang-orang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang telah Ku-rezekikan kepadamu, dan besyukurlah kepada Allah….” Silahkan, silahkan menikmati, hai manusia!.

          Dan Allah sepertinya hanya memberi catatan kecil saja dengan kata “sesungguhnya hanya” (innama) untuk hal-hal yang haram (innama harrama ‘sesungguhnya hanya mengharamkan’). Malah, di al-Maidah (5) : 87-88, manusia diperingatkan agar tak sembarang mengharamkan. “ Hai orang-orang beriman, jangalah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu…. Makanlah rezeki Allah yang halal lagi baik….”.

           Antara makanan dan gagasan-betapa jauh jarak keduanya. Tapi sebuah kuasa dibarengi pistol di jidat, yang seperti todongan, keduanya sangat erat, bahkan jumbuh, tak jelas lagi perbedaannya. Gagasan diperlukan seperti makanan, diberi stempel haram.

              Betul bahwa Al-Qur’an tak hanya bicara haram dalam konteks makanan. Setuju. Al-Qur’an juga menyebut haram pada sebuah praktik, sebuah tindakan individu. Semisal pada al-Baqarah  (2) : 275. Dikatakan di sana bahwa Allah mengharamkan riba. Riba bukan jenis makanan atau minuman tentu saja, ia adalah tindakan, fi’l kata orang Arab. Tapi, apakah dengan demikian antara tindakan dan gagasan adalah satu? Keduanya jelas beda.

            Kalau menurut pakar Fiqih-sebuah bidang ilmu di mana soal haram dan halal masuk kategori fi’lul mukallaf. Fi’lul mukallaf, atau terjemahkan saja sebagai tindakan praktis (amaliyyah) yang dilakukan subjek hukum (mukallaf), ialah yang bisa dihukumi haram maupun halal. Gagasan?

            Seandainya gagasan bisa masuk kategori fi’lul mukallaf tentu orang tak perlu melaksanakan puasa Ramadhan, tapi cukup memikirkan bahwa puasa Ramadhan itu dimulai dari terbit fajar hingga tenggelam matahari, menahan diri, tidak makan, tidak berhubungan suami-istri, dan seterusnya – maka sudah gugur sebuah kewajiban.

           Sayangnya, memikirkan itu tidak dihitung fi’lul mukallaf. Mungkin butuh dalih yang melingkar-lingkar dan menderu seperti topan Katrina untuk membuat gagasan bisa disebut fi’lulu mukallaf. Atau cukup dengan kekuatan kuasa resmi plus pekikan massa yang menggeram? Dan semua gagasan yang beda akan menjadi haram, dan akhirnya perlu dienyahkan. Haram = enyah.

          Begitulah, meski sebenarnya Al-Quran masih punya suara lain. Al-Qur’an menggunakan kata haram juga untuk konteks sesuatu yang suci. Haram = suci. Tengoklah, al-Maidah (5) : 2 menyebut agar orang-orang mukmin tidak menodai bulan-bulan haram. Bulan haram? Betul, haram bukan satuan waktu yang harus dicampakkan umat muslim, bukan bulan yang harus disingkirkan, ditepis, dihindari. Sebaliknya merupakan bulan yang harus disambut dan diterima dengan suka cita, dengan penuh ketakziman.

           Di bulan haram, yakni Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab, peperangan yang notebene menjadi kebiasaan masyarakat kesukuan di wilayah Arab pun tak boleh berlangsung. Bulan haram seperti tak boleh disentuh, bukan karena ia menjijikan melainkan lantaran begitu agung dan sucinya. Dan siapa pula yang berani memandang jijik Masjidil Haram?

         Masjid yang berada persis di kiblat sembahyang muslim sedunia itu disebut masjid haram, dan sebutan ini ditera dalam Al-Qur’an berulang-ulang, di berbagai ayat. Disebut haram tentu bukan karena ia menjijikan sehingga perlu disingkirkan. Juga bukan karena ia menyimpan petaka besar atau bencana mengerikan. Melainkan lantaran begitu agung dan mulia. Haram = mulia.

       Namun kini, haram pada akhirnya hanya menjadi ungkapan untuk memberi silang merah pada sisi kepala berbeda. Apa pun wujudnya, jika kehadirannya tak dikehendaki karena menggoyang tatanan resmi, jika kehancurannya dinantikan lantaran tangan perkasa sang pasukan sudah tak tahan, maka kata haram menjadi jurus yang jitu. Bahkan, sudah tak perlu dibedakan antara makanan dan gagasan.


* Dukutip dari berbagai sumber

KETERKABULAN DOA MENGIKUTI PENGGAMBARAN BATIN TERHADAP AL HAQ

"Sebutkan petunjukmu sebagai petunjuk jalan dan kelurusan sebagai kelurusan tujuan, karena keterkabulan mengikuti penggambaran. Maka barang siapa yang penggambarannya paling baik kepada Al Haq, doanya akan terkabul “ (HR Muslim)


Mereka yang masih terus mencari karena ingin selalu meningkatkan taraf hidup dan kesuksesan mereka, atau istilah kerennya disebut "the Seekers" (alias Para Pencari), pasti sudah pernah mendengar tentang the Law of Attraction (atau Hukum Ketertarikan atau Hukum Tarik Menarik), yang inti sari dari teori tersebut adalah apa yang kita gambarkan dalam pikiran dengan penggambaran yang terfokus itulah, yang akan kita tarik masuk dalam hidup kita.


Hampir sebagian besar masyarakat dunia sudah pernah mendengar tentang konsep Law of attraction (LOA), apalagi setelah terbitnya film dan buku "the Secret" karya Rhonda di tahun 2006, yang menyebar pesat ke seantero dunia dan menjadi satu trend dan dibahas di mana-mana. Ribuan buku telah ditulis tentangnya, ribuan TV show digarap berdasarkannya, dan jutaan website menulis tentangnya. Tetapi anehnya, di negara asal "the Secret" sendiri, yaitu Amerika Serikat, kondisinya justru merunyam hanya dua tahun sesudah lahirnya buku the Secret. Krisis ekonomi dahsyat menerjang negara superpower ini dan imbasnya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Krisis yang mengakibatkan jutaan manusia kehilangan pekerjaannya.


Sementara di belahan bumi lainnya, kondisi runyam juga terus terjadi, termasuk di negara kita ini. Ironis, bukan ? Padahal the Secret mengajarkan tentang satu hukum alam yang bisa menjadi kunci ampuh pembuka segala macam jenis kesuksesan bernama the Law of Attraction. Di mana salahnya ? Apakah the Law of Attraction itu bohongan ? Ataukah yang diajarkan di the Secret itu hanya konspirasi untuk menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pembuatnya saja ?


Kalau kita bisa mendapatkan kebaikan yang kita inginkan, yang terfokus dalam pikiran kita, (karena tidak ada orang yang menginginkan keburukan), tapi anehnya kenapa banyak yang ketarik ke dalam hidup mereka justru keburukan ? Sebenarnya apa yang terjadi ? Setelah direnungi, ternyata tidak banyak manusia yang benar-benar paham akan cara kerja hukum Ketertarikan ini.


Sebenarnya The Law of Attraction atau kita singkat menjadi LoA / LOA adalah sebuah hukum alam yang usianya sudah setua alam raya ini, tetapi telah ribuan tahun pula rahasia ini tidak banyak dipahami manusia.

Jadi tidaklah mengejutkan kalau sekarangpun, walau telah pernah membaca dan mendengar tentangnya, masih juga kita tidak semuanya dan sepenuhnya paham akan LOA.


Sebuah kitab klasik kuno dari India "Bhagavad Gita" pernah menyindir :


"Banyak kunci rahasia hidup yang telah diajarkan sejak zaman dahulu kala, dan telah menjadi bagian kehidupan manusia dari masa ke masa. Tetapi mereka tidak disebut sebagai RAHASIA tanpa alasan. Kunci sukses tersebut disebut RAHASIA, bukan karena hal ini tersembunyi, tetapi karena sampai kapanpun hanya akan ada sedikit orang yang siap, bisa dan bersedia mendengar atau mengetahuinya."


Begitu pula Nabi Muhammad Saw, 1500 tahun yang lalu sudah mengungkapkan teori LOA ini dalam hadits- haditsnya.


"Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman: "Aku bersama sangkaan hamba-Ku pada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka dengan apa yang ia inginkan (bukan yang ia risaukan atau khawatirkan)". (Hadits Qudsy)


"Apabila Rasulullah berdoa, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya “ Di dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau menyuruh para sahabatnya untuk melakukan hal itu dan menganjurkannya “ (HR Ibnu Majah)


“ Sebutkan petunjukmu sebagai petunjuk jalan dan kelurusan sebagai kelurusan tujuan, karena keterkabulan mengikuti penggambaran. Maka barang siapa yang penggambarannya paling baik kepada Al Haq, doanya akan terkabul “ (HR Muslim)


“ Keabsahan penggambaran mengikuti ilmu yang benar dan kesaksian (syuhud) yang sahih. Karena itu Rasulullah SAW bersabda “ Kalau kamu mengenal Allah, niscaya doamu dapat menggerakkan gunung “. (HR Ibnu As Sunni)


Tapi mayoritas para ulama Islam, menafsirkan hadits hadits tersebut dengan pemahaman yang tersuratnya saja, sehingga wajar kalau banyak umat Islam yang tidak memahami tentang the Secret, yang tersirat dalam hadits hadits tersebut, atau mungkin karena memang konsep LOA yang tersirat dalam hadits itu "a secret" atau "sirrul asrar", rahasianya rahasia.


Sebenarnya The Law of Attraction atau LOA ini adalah bagian dari sekian banyak Hukum Alam yang pelan dan latif tapi pasti, mulai bisa dipahami manusia. The Law of Attraction (LoA /LOA) adalah sebuah hukum alam yang usianya sudah setua alam raya ini, dan telah ribuan tahun pula rahasia ini tidak banyak dipahami manusia. Karena itulah ia disebut "the Secret" atau ilmu Sirrul Asrar.


Hukum Alam atau the Universal Laws atau Hukum Semesta atau the Laws of the Universe atau Hukum Tuhan atau Sunatullah, (semua istilah ini sama maknanya, merujuk ke hal yang sama alias sinonim), singkatnya, adalah sekumpulan Hukum Alam yang disertakan Tuhan pada saat penciptaan, sebagai Operating System Jagad Raya ini.


Ibaratnya, alam raya ini sebuah komputer, the Laws of the Universe itulah yang menjalankan fungsi-fungsi khususnya. Mirip Operating System (OS) sebuah komputer, yang membuatnya bisa digunakan untuk menghitung, membaca, menulis, mencari, dan berhubungan dengan dunia luar, dunia maya dan sebagainya.


Sebenarnya jika kita telusuri, banyak hukum yang mengatur aspek spiritual alam raya ini dan kehidupan manusia di dalamnya. Dan inilah yang sedikit pelik dan sulit dipahami manusia. LOA sebagai salah satu hukum-hukum ini, merupakan salah satu yang paling penting untuk kita pahami bila kita menginginkan kesuksesan yang hakiki. Hanya sayangnya, LOA masuk ke bagian hukum alam yang agak pelik untuk dipahami. Bila dibicarakan terlalu dalam akan rumit, sementara bila disederhanakan, bisa hilang unsur-unsur tertentunya, sehingga pemahaman yang didapat juga kurang tepat atau akurat.


Bisa jadi inilah penyebab kenapa the Secret, yang sebenarnya baru merupakan perkenalan saja dengan LOA, kurang berhasil membawa dampak bagi kebanyakan orang. LOA cenderung ditinggalkan lagi, karena dianggap kurang efektif.


Satu contoh kecil bukti nyata banyaknya mereka yang tidak paham tentang LOA ini bahkan sesudah menonton dan membaca the Secret (apalagi yang belum pernah) adalah pertanyaan yang sering muncul "Apakah LOA itu tidak bertentangan dengan Islam ?"


Banyak hal yang harus diluruskan tentang the Law of Attraction ini, karena sesungguhnya hukum ini bisa menjadi alat super ampuh kita untuk mencapai tujuan hidup, bila kita benar-benar memahami dan tahu cara menggunakannya.


Bagaimanakah cara mudah memahami dan menerapkan  teori LOA ? Untuk lebih memahami teori LOA, cerita pendek tentang seorang bapak yang ingin makan di warung makan padang, dapat dijadikan analogi untuk menjelaskan tentang the Law of Attraction (LOA).


Di sini kita akan memakai tokoh Pak Budi. Seorang lelaki biasa saja yang pada suatu hari merasa lapar dan ingin makan. Maka Pak Budi pun pergi ke sebuah Rumah Makan Padang untuk membeli makanan. Tetapi rupanya ada satu masalah. Ketika dia sampai di depan konter, dia tidak tahu pasti apa yang ingin dimakannya.


Hampir semua jenis makanan ada di situ, dan semua tampak begitu menggiurkan, Pak Budi tidak tahu harus memilih yang mana, karena jelas dengan kapasitas lambung yang terbatas, dia tidak akan bisa memakan terlalu banyak pilihan makanan. Dia harus memilih. Dan dia harus memilih dengan cepat, si pelayan sudah menunggu, begitu juga beberapa orang yang sedang antri di belakangnya untuk memesan.


"Mau makan apa, Pak?" tanya si pelayan menyadarkannya dari lamunan.


Tergagap-gagap karena belum tahu hendak memilih apa, Pak Budi menjawab, "Apa aja deh, pokoknya yang enak."


Si pelayan bengong, "Tapi semua di sini dijamin enak Pak. Bapak sebenarnya mau makan apa?"


"Saya bingung, nih, mau makan apa. Terserah mbak, deh. Pokoknya saya mau makan, karena saya sudah lapar banget nih. Cepet ya."


Si pelayan yang tidak habis pikir dengan keeksentrikan pelanggan barunya ini dengan cepat mengambilkan sepiring nasi dan sepotong tempe serta sesendok sambal lalu menyerahkannya ke Pak Budi.


Kemudian dengan cepat pula dia mempersilahkan Pak Budi minggir karena pelanggan di belakangnya yang sudah menunggu harus segera ganti dilayani.


Pak Budi duduk dengan sebal. Dia lapar, tetapi kebetulan dia tidak terlalu suka sambal atau tempe. Dan si pelayan hanya mengambilkan dua macam lauk itu saja untuknya. Menyebalkan sekali, pikir Pak Budi. Tetapi dia sadar bahwa itu salahnya sendiri karena dia tadi toh bilang "Terserah Mbak aja deh."


Maka kemudian dia berdiri lagi untuk mengantri, saat ini dia sudah memutuskan untuk memilih sendiri menunya, agar pas dengan seleranya.


Akhirnya, gilirannya tiba lagi. Si pelayan lagi-lagi bertanya, "Ya Pak, mau makan apa?"


"Eh ... kayaknya rendang daging, tetelan danjerohan itu enak banget ya, mbak. Saya mau itu, tapi saya gak ingin tambah berat badan atau naik kolesterol, nih, gimana dong."


Lagi-lagi si mbaknya bengong. "Jadinya, Bapak mau makan yang mana ?"


"Saya ingin rendang daging, tetelan dan jerohan itu. Tapi saya tidak mau kolesterol saya naik, ya. Bisa gak?"


"Wah, Pak, saya sih cuma ngambilin makanan di sini. Saya gak ngerti soal itu. Bapak sebenarnya mau makan apa, sih?"


"Ya, udah deh, kasih saya rendang itu, lengkap. Gemuk, gemuk deh, kolesterol naik, bodo' deh. Biarin aja lah," omel Pak Budi pada diri sendiri sambil memutuskan.


Setelah menerima makanannya, Pak Budi duduk untuk mulai makan. Tetapi dia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dipilihnya sendiri. Dia tahu dia tidak seharusnya memakan makanan jenis seperti ini demi kesehatannya sendiri. Setelah beberapa suap, dia berdiri lagi dan kembali mengantri ke depan konter. Kali ini dia sudah memutuskan untuk meminta makanan yang lebih sehat dan bersahabat dengan badannya yang sudah separoh baya.


"Mbak, saya mau ganti pesanan deh. Saya mau makan gado-gado saja, ada? Itu jauh lebih sehat daripada rendang," ucapnya dengan yakin kepada si pelayan begitu mendapat giliran.


"Baik, pak. Ada. Tetapi, Bapak harus menunggu sebentar ya, karena menu gado-gado itu menu special, hanya dibikinkan berdasar . ? .   permintaan supaya selalu segar (Ya, iyalah, ini juga kan Warung Padang, masa pesan gado-gado, ada-ada aja Pak Budi ini). Jadi silahkan duduk dan mohon tunggu sebentar, ya," kata si pelayan.


Pak Budi membayar, lalu duduk, menunggu pesanan spesialnya. Tidak lama kemudian dia menjadi tidak sabaran, karena setiap kali ada pengantar makanan keluar dari dapur, yang mereka bawa bukan pesanannya, tetapi pesanan orang lain.


Dia mulai berpikir jangan-jangan dia tertipu, sebenarnya mereka tidak punya menu gado-gado. Dia juga mulai kesal karena rasa lapar yang mengganggunya, "Mereka tidak tahu apa, aku sudah sangat lapar sekali?".


Beberapa menit berlalu, dan gado-gadonya belum muncul juga. Maka kekesalannya pun naik ke kepala. Dengan garang dia mendatangi konter dan menggebrak meja di sana dengan marahnya.


"Mana pesanan saya. Saya itu sudah lapar. Saya mau makan gado-gado sekarang. Mana, mana makanan saya? Sebenarnya kalian ini becus kerja apa gak? Atau, jangan jangan kalian mau menipu saya, gak jualan gado-gado aja bilangnya ada?" Begitu omel-nya panjang lebar.


Si pelayan dengan tenang menjawab, "Bapak bilang ingin makan, tapi dari lagak bapak, kayaknya bapak ingin cari gara-gara," katanya sambil berteriak memanggil dua orang satpam rumah makan tersebut yang bertubuh kekar.


Mereka kemudian mengusir paksa Pak Budi dengan ancaman akan dipanggilkan polisi kalau terus membuat keributan. Maka Pak Budi pun terusir dari warung itu dengan perut masih keroncongan.


Rencananya untuk makan siang dengan enak dan tenang tidak tercapai. Tetapi dia belajar banyak hal dari pengalamannya itu dan tahu harus bagaimana lain kali.


Maka, keesokan harinya, kembalilah dia ke rumah makan tadi. Kali ini, dengan tenang dia mengantri, dengan yakin dia menyebutkan pilihannya, membayar, lalu duduk dengan sabar menunggu pesanannya diantarkan. Ketika menunggu itu Pak Budi melihat bahwa ternyata banyak juga pengunjung lain yang sedang memakan gado-gado, sama seperti pilihannya. Ini membuat dia yakin bahwa benar gado-gado istimewa yang sehat yang telah dipesannya tadi akan bisa dia dapatkan.


Dia menunggu sambil membayangkan betapa nikmatnya makan makanan yang benar-benar diinginkannya dan yang dia tahu baik untuk kesehatannya, sehingga tanpa terasa waktu berlalu, dan tiba-tiba seorang pelayan telah muncul di depannya dengan makanan yang telah dinanti-nantikannya. Makanan lezat penuh sayuran hijau yang tidak bakal menyumbat arterinya. Maka makanlah Pak Budi dengan bahagia.


Apakah hubungannya cerita warung makan padang seperti diatas dengan teori LOA ? Sebenarnya, dari cerita pendek tersebut, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik dari analogi Law of Attraction dengan memesan makanan di Restoran Padang. Memang benar bahwa hukum Law of Attraction (LOA) memungkinkan kita untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan. LOA adalah hukum yang diciptakan Tuhan sebagai sebuah Operating System jagad raya ini untuk memastikan siapapun tanpa kecuali bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka.


Ibaratnya dunia ini adalah sebuah rumah makan, maka LOA adalah si pelayan rumah makan tersebut yang akan mengambilkan makanan apapun yang pelanggannya inginkan. Si pelayan rumah makan tadi adalah si LOA yang akan mengambilkan apapun yang pelanggannya mau. Tetapi untuk bisa sukses dengan Law of Attraction ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan si pengunjung rumah makan untuk memastikan agar si pelayan bisa mengambilkan apapun yang dimintanya dengan tepat.


Dengan kata lain, untuk membuat LOA bekerja dengan efektif dalam hidup kita, agar kita bisa sukses dengan Law of Attraction, paling tidak ada 4 hal berikut ini yang harus kita perhatikan :


1. Pertama, kita harus tahu benar apa yang kita inginkan dan yang  butuhkan. Kalau tidak, bisa jadi kita hanya akan mendapatkan apa yang dipilihkan oleh si pelayan, yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang benar-benar kita inginkan.


Begitu juga jika kita perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang kita inginkan, maka berarti akan lama juga waktu tunggu kita. Lebih parah lagi, kalau kita tidak tahu apa yang kita inginkan, bisa jadi kita tidak akan pernah mendapatkannya. Oleh sebab itu, kita harus  mengetahui dengan pasti berdasarkan skala prioritas, tentang apa yang kita inginkan dalam hidup ini sebagai langkah pertama menuju kesuksesan hidup yang kita cari.


2. Agar bisa sukses dengan Law of Attraction, langkah keduanya adalah kita harus memintanya secara eksplisit. Dengan kata lain, kita harus melakukan pemesanan. Bila kita masuk sebuah rumah makan tetapi tidak memesan, maka silahkan saja tunggu sampai kiamat untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tadi.


Dalam hidup kita, kita memesan kepada Tuhan apa yang kita inginkan. Lalu pelayan-Nya, si Law of Attraction-lah yang akan membawakan keluar pesanan kita.


3. Ketiga, agar kita sukses dengan Law of Attraction, kita harus kongruen (congruent) atau bulat. Maksudnya, kita hanya akan mendapatkan apa yang kita inginkan bila kita menginginkannya dengan keseluruhan kesatuan hati, pikiran, tindakan dan kata-kata kita. Semuanya harus sinkron dan fokus menginginkan hal yang sama.


Jadi tidak bisa kita menginginkan hanya dengan sekedar kata-kata saja, atau action saja, atau pikiran saja, misalnya. Keempat unsur tadi (hati, pikiran, kata-kata dan tindakan) harus bersatu menunjukkan keinginan yang sama : pikiran kita, hati kita, kata-kata kita, tindakan kita, keempatnya harus menginginkan hal yang sama, bila ingin sukses dengan Law Attraction.


Sebagai contoh, misalnya kita sering makan siang dengan seorang kenalan yang kebetulan overweight atau kegemukan. Dengan tinggi hanya 160 cm, berat badannya mencapai 110 kg. Dia tidak henti menceritakan pada kita tentang semua obat, jamu dan metode pelangsingan badan yang dia telah coba untuk menurunkan berat badannya. Dia bilang, dia sangat ingin berat badannya turun barang 5 kilo saja. Tetapi pada saat yang bersamaan, dia memesan 4 porsi mie ayam serta satu mangkok bakso untuk dilahapnya sendiri. Kata-katanya menyebutkan dia ingin langsing, tapi tindakannya tidak.


Kita pasti juga pernah melihat contoh berikut ini. Ada yang bilang ingin sehat tetapi cemilannya donat dan soda, tidak pernah olah raga, dan suka merokok dsb.


Ada yang bilang ingin bahagia tetapi kerjanya jutek terus terhadap orang lain. Atau sebaliknya, ada orang yang sangat ingin kaya, tetapi mulutnya tidak berhenti juga mencerca mereka yang sudah kaya. "Orang kalau sudah kaya memang sering lupa daratan.", kata mereka, atau "Orang kaya itu kebanyakan serakah, berapapun hartanya pasti masih merasa kurang.", atau "Jangan terlalu kaya, nanti terjebak hal yang haram." dan pandangan-pandangan lain sejenis ini.


Contoh-contoh ini menunjukkan betapa tidak sinkron atau kongruennya keempat unsur dalam diri manusia, hati, pikiran, kata-kata, dan tindakan, yang menyebabkan tidak bisa terwujudnya apapun yang mereka inginkan. Sulit sekali mencapai sukses bahkan dengan Law of Attraction sekalipun bila kita tidak kongruen.


4. Keempat, bersabarlah ketika menunggu


Kalau kita ingin Law of Attraction bekerja maksimal untuk "mengambilkan" pesanan kita, kita harus bersabar "menunggu" pesanan kita. Jangan pernah berputus asa akan apa yang kita inginkan tadi. Jangan pernah berpikir untuk menyerah, berhenti menginginkan atau sekedar was was bagaimana kalau tidak dikabulkan. Yakinlah, bahwa kita pasti mendapatkannya. Hanya masalah waktu. Untuk bisa bersabar, agar tidak selalu was-was dan harap-harap cemas selagi menunggu, kita harus mengisi hidup kita dengan hal-hal yang menyenangkan.


Penuhi dengan rasa syukur akan anugerah-anugerah dan keindahan-keindahan "kecil" yang terjadi setiap harinya. Ibaratnya Pak Budi di atas, dia mungkin akan bisa lebih bersabar seandainya ketika sambil menunggu itu dia mengisi TTS, membaca majalah, mendengarkan musik atau apa. Atau kalau memang dia sudah lapar sekali, jangan hanya memesan satu jenis makanan saja yang masih harus dipersiapkan, dia bisa juga meminta minuman, atau makan cemilan yang tersedia untuk mengganjal perutnya sementara menunggu.


Karena itulah, dalam konsep LOA juga diajarkan bahwa untuk sukses kita harus terus bersyukur, menjalani kehidupan kita seperti biasa, dan fokus kepada hal-hal yang menggembirakan kita. Kehidupan kita berlangsung saat ini juga, bukan nanti ketika semua keinginan sudah terpenuhi. Bahkan keinginan akan segera terpenuhi bila kita tidak terus "menanti-nanti". Juga, pastikan kita tidak memiliki hanya satu atau sedikit saja permintaan untuk bisa sukses total. Semakin lapar kita, semakin banyak makanan yang harus kita pesan.


Semakin susah hidup kita, semakin banyak yang harus kita minta kepada-Nya berdasarkan skala prioritas, untuk membuat hidup kita terasa mudah. Kita perlu sukses tidak hanya di rumah tangga, tetapi juga dalam hidup bertetangga, dalam pekerjaan, dalam usaha, dan dalam urusan spiritual, dan sebagainya.


Mintalah banyak hal berdasarkan skala prioritas, agar rasa lapar kita terganjal dan tidak terasa. Semakin lapar kita, semakin banyak kita harus memesan makanan tambahan. Itulah penjelasan dan analogi sangat sederhana untuk menjelaskan cara kerja sukses dengan the law of attraction dalam membantu mewujudkan semua impian kita dengan konsep The Law of Attraction.


Hukum Tuhan dalam LOA ini, bila kita terapkan dengan benar, tidak akan meleset dalam membantu kita menikmati kesuksesan apapun yang kita inginkan. Ud'uni astajib lakum.....m


Ya Rabb,

Aku bersyukur

Belum memiliki semua yang kuinginkan

karena itu memberiku alasan untuk mengejarnya


Aku bersyukur tidak mengetahui segalanya

karena itu memberiku kesempatan untuk belajar


Aku bersyukur,

Engkau beri masa-masa sulit

karena itulah aku dapat tumbuh dan berkembang


Aku bersyukur untuk keterbatasanku dan ketidak sempurnaanku

karena itu memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri


Aku bersyukur atas semua cobaan dan tantangan

karena aku yakin akan membangun kekuatan dan karakterku


Aku bersyukur atas rasa sedih, susah, duka dan nestapa

karena merekalah aku bisa lebih tegar dan bijak


Aku bersyukur atas segala kelelahan dan kegagalan

karena mereka memberiku pelajaran yang berharga


Aku bersyukur atas letih, lelah dan capekku

karena mereka kawan terbaik usahaku


Ya Rabb

Aku bersyukur Engkau tidak menjadikan segalanya mudah bagiku,

karena disanalah aku menemukan makna hidupku, dan lebih mendekatkan diri kepada Mu.


*dikompilasi dari beragai sumber