Minggu, 21 Januari 2018

ADAKAH REINKARNASI DALAM ISLAM .....?

Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn atau reembodiment.
Bagi agama-agama di Timur, agama-agama yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara; reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam.
Bagaimana dengan reinkarnasi di Dunia Barat? Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 SM, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu pasti berakhir. Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir bila sang manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi bila roda samsara telah berhenti. Sang Jiwa selanjutnya ke alam nirwana.
Sebagai seorang muslim tentu kita akan menguraikan reinkarnasi ini berdasarkan dalil-dalil Alquran dan Hadis. Dan, dalil-dalil ini tergolong ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat yang perlu dipahami maknanya dengan seksama. Oleh kalangan awam ayat-ayat ini biasanya dilepas begitu saja, dan tidak ada usaha memahaminya. Padahal, Alquran telah memerintahkan pembacanya untuk menggunakan akal atau pikiran untuk dapat mengerti makna yang tersembunyi dibalik makna literalnya.
Marilah kita simak ayat QS al-Mulk [67]: 2.

Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Dengan cara itu Dia mendidik dan melatihmu, dan untuk memberikan nilai bagi siapa yang lebih baik amalannya. Dan, Dia itu Maha Perkasa dan Maha Melindungi.
Pertama, mati dan hidup itu diciptakan. Hal semacam ini sering luput dari pemahaman. Dikiranya, yang diciptakan Tuhan itu hanya hidup. Mati ada di dalam wilayah ciptaan Tuhan. Demikian pula hidup. Tentu saja yang dimaksud di sini bukanlah “hidup sejati”. Tapi, hidup di dalam jasad. Jadi, hidup di dalam jasad, dan mati jasad itu ciptaan. Jasad atau raga hanyalah pakaian bagi “jiwa”, soul. Jika raga tidak bisa dipakai alias tidak berfungsi, maka jiwa akan meninggalkannya. Tetapi, jika jiwa hanya sekadar meninggalkan jasad, belum tentu jasad mengalami kematian.
Dalam peristiwa OOBE (Out Of the Body Experience), jiwa dapat keluar tubuh dan kembali lagi. Tidur nyenyak pun dapat membuat jiwa ke luar dari tubuh untuk beranjang sana-sini.
Hal semacam ini dijelaskan dalam QS al-Zumar [39]: 42, sebagai berikut.
"Allah yang memegang jiwa manusia ketika matinya dan di waktu tidur bagi yang belum mati. Dan, ditahan-Nya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya, sedangkan yang belum mati dilepaskan hingga masa ajal tiba. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang yang berpikir".
Selama garis kematian belum tiba, jiwa dapat bepergian kesana-kemari. Menurut mistik Timur, jiwa dan raga ini ada tali pengikat yang disebut benang perak atau silver cord. Selama benang ini tidak putus, maka orang yang mengalami OOBE tidak akan tertimpa kematian.
Bila dilihat dari sudut energi, orang yang mengalami mati itu telah kehilangan energi prana, elan vital, atau premananya (Jawa). Baik benang perak atau premana tidak perlu dipertentangkan. Keduanya merupakan elemen kehidupan. Jika salah satunya rusak, orangnya akan mati. Artinya, bilamana elemen-elemen yang membangun hidup itu rusak alias tidak berfungsi, jiwa tak akan dapat beroperasi lagi. Jiwa akan meninggalkan tubuh yang demikian itu.
Kedua, penciptaan mati dan hidup itu dimaksudkan untuk mendidik dan melatih manusia agar manusia dapat beramal kebajikan. Jadi, jelas sekali bahwa proses mati-hidup-mati-hidup di dunia ini dimaksudkan untuk melatih manusia. Dunia ini sekolahan.
"Dunia adalah ladang bagi kehidupan berikutnya"(Hadis).
Siapa yang menanam, ia pula yang mengetam. Dan, dalam QS 51:56 disebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia itu adalah ma’rifat Allah, mengenal Allah. Untuk apa? Agar manusia dapat kembali ke asalnya, yaitu kembali kepada Allah.
Seringkali balasan amal itu dipahami sebagai balasan atau imbalan yang akan diberikan kepada manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya di alam akhirat setelah hancur-leburnya bumi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan pernyataan-pernyataan tentang cepatnya perhitungan Tuhan terhadap para hamban-Nya. Lebih dari 10 ayat yang menyatakan bahwa hisab Tuhan atau perhitungan amal baik dan buruk manusia itu amat cepat.
Kalau hukuman itu ditangguhkan hingga hari kiamat atau setelah hancurnya alam semesta, maka ada orang yang sudah jutaan tahun dalam masa menunggu, dan bagi yang hidup menjelang hancurnya alam semesta malah akan menerimanya lebih cepat. Tentu, hal ini akan bertentangan dengan kasih sayang Tuhan, sekaligus bertentangan dengan keadilan-Nya.
Balasan dan imbalan dari Tuhan terhadap amalan manusia itu amat cepat alias segera. Dan, perhitungan itu tidak sperti nilai rapor. Apabila nilai rapor sudah diperhitungkan nilai plus-minusnya, sehingga seseorang tinggal terima jadi, apakah ia naik kelas atau tinggal kelas; tidak demikian dengan perhitungan Tuhan.
Dalam QS al-Zalzalah [99]:7–8 disebutkan sebagai berikut:
Barangsiapa yang beramal kebajikan sebesar zarah, maka buah amalnya itu akan dilihatnya.
Dan, barangsiapa berbuat keburukan sebesar zarah, maka balasan amal buruknya itu pun akan dilihatnya.

Jadi, tidak ada perhitungan dengan sistem yang dapat mencapai angka 6 atau lebih akan naik kelas atau akan tinggal di surga, dan yang tidak dapat angka indeks prestasi itu akan tinggal di neraka. Tidak. Tidak demikian! Bahkan bagi yang beramal keburukan sekecil debu pun akan merasakan balasannya. Sebaliknya, yang beramal kebaikan sekecil zarah pun akan merasakannya pula.
Balasan Tuhan itu amat cepat. Dalam bahasa Arab disebut sarî‘ al-hisâb. Balasan yang cepat artinya suatu balasan yang dapat diamati di dunia ini. Dan, sistem perhitungannya pun sebagaimana dikemukakan pada ayat-ayat di Surah al-Zalzalah tersebut. Itu artinya balasan atau imbalan itu berlangsung di dunia ini. Caranya melalui kelahiran kembali. Hal ini disebut dalam QS 6:94, bahwa manusia datang sendiri-sendiri sebagaimana kejadian pada mulanya. Dan, mengenai penciptaan pada kali yang lain ini akan jelas sekali diterangkan dalam QS 29: 19–21 sebagai berikut.
"Dan, apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan pada awalnya dan mengulanginya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.
Katakanlah: “Berjalanlah di bumi, maka gunakan nalarmu untuk mema-hami bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, kemudian menciptakannya pada kali yang lain. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Allah mengazab orang yang menghendaki (azab) dan memberikan rahmat kepada yang menghendakinya. Dan, hanya kepada-Nya kamu dikembali-kan".

Perhatikan dengan seksama ayat tersebut. Pada ayat yang pertama, isi perintah-Nya adalah memperhatikan cara Allah menciptakan manusia. Yang perlu diperhatikan adalah cara Allah menciptakan manusia pada mulanya. Bagaimana? Ternyata, caranya melalui pertemuan sel telur pada wanita dan sel sperma dari pria. Kemudian, keduanya bersatu, membelah diri, dan akhirnya tumbuh menjadi janin di dalam perut ibu. Lalu, lahir ke bumi sesuai dengan garis nasibnya. Ada yang dilahirkan di tengah orang berada, dan ada yang dilahirkan melalui keluarga papa.
Setelah paham tentang penciptaan pada pertamanya, maka kita diminta memperhatikan caranya Allah mengulangi penciptaan itu. Kita diperintah untuk memperhatikan pada penciptaan ulangan, agar kita ngeh, kita paham benar-benar bagaimana proses penciptaan manusia.
Ayat yang kedua, memerintah kita untuk menjelajah bumi ini. Kita diperintah untuk melakukan study tour, atau widya wisata. Untuk apa? Untuk mengerti tentang bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, dan menciptakan pada kali lainnya.
Coba renungkan dalam-dalam! Seandainya penciptaan pada kali lain itu terjadi setelah dunia ini hancur lebur, ya akan menjadi perintah yang salah. Mengapa? Karena penyelidikan penciptaan itu cukup di bumi ini, baik penciptaan pada mulanya maupun pada kali yang lain. Itu artinya kebangkitan itu di bumi ini. Yaitu, berupa kelahiran kembali. Ya, lahir kembali adalah penciptaan pada kali yang lain. Kalau bumi sudah hancur, maka kita tidak akan dapat melakukan studi tentang kebangkitan. Kita tidak dapat memperoleh pemahaman tentang itu. Pada penciptaan kali yang lain itulah seorang manusia yang dilahirkan menerima azab atau mendapat rahmat. Azab atau rahmat yang diterimanya itu berdasarkan kehendak orang yang dilahirkan kembali. Jadi, bukan karena kehendak Tuhan.
Mengapa ? Karena Tuhan sama sekali tidak merugikan hamba-Nya. Dalam QS 3:117 disebutkan bahwa Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.
Sedangkan dalam QS 10:44 disebutkan bahwa,
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, akan tetapi manusia sendiri yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”
Jelas sudah, bahwa bukan Allah yang menghendaki azab bagi manusia. Allah hanyalah menjalankan roda hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan pahala dan balasan itu atas Kehendak-Nya. Sayang sekali, dalam berbagai terjemahan, kata man yasyâ’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Allah menghendaki. Tentu saja terjemahan demikian melanggar pernyataan Allah bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun. Apabila kita memahami bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikit pun, lalu siapa yang membuat ada yang bernasib baik, dan ada yang bernasib buruk? Lalu, mengapa ada orang yang mulus hidupnya dan ada yang tidak luput dari bencana? Apa ada garis tangan seseorang ? Jawabnya, semua itu akibat ulah dan perbuatan orang yang tertimpa bencana itu sendiri. Kalau seseorang bernasib baik maka itu akibat amal kebajikan orang itu sendiri. Amalan kapan? Yaitu, amal baik dan buruk yang pernah dikerjakan pada kehidupan yang lampau. Jadi, takdir baik dan buruk itu digoreskan oleh seseorang pada masa lampaunya. Jika takdir baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan di zaman azali, maka itu artinya Tuhan telah berbuat zalim bagi sebagian hamba-Nya. Jika sudah demikian, berarti Tuhan telah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Padahal, Tuhan tidak merugikan sedikit pun kepada manusia. Maka, jelas Tuhan tidak menetapkan takdir sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam hingga sekarang ini. Maka, kita sekarang ini bukanlah kita yang baru dicipta. Tapi, kita sekarang ini adalah manusia yang telah lahir beberapa kali, bahkan ratusan atau bahkan ribuan kali.
Mengenai petaka atau bencana yang menimpa manusia di bumi ini, dapat dirujuk pada ayat-ayat berikut. Perhatikan dengan seksama dua ayat di bawah ini.
"Dan, musibah apa pun yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh tindakanmu sendiri, dan Allah mengampuni sebagian besar kesalahanmu.
Dan, kalian tidak dapat melepaskan diri dari bumi ini. Bagimu, tiada pelindung dan penolong selain Allah". (QS 42: 30-31)

Apa saja jenis musibah atau bencana yang menimpa seseorang, ternyata itu akibat perbuatan tangannya sendiri. Bukan oleh orang lain. Bukan oleh Tuhan. Bukan oleh setan dan jin. Ternyata semua itu disebabkan oleh ulah yang tertimpa musibah itu. Termasuk kalau ada bayi yang dilahirkan cacat. Itu disebabkan oleh perbuatan jiwa si bayi tersebut.
Banyak orang yang tidak memahami tentang kelahiran kembali. Atau, reinkarnasi. Sehingga, kalau ada bayi cacat maka itu dianggap oleh kondisi kesehatan orangtuanya. Misalnya, ada kerusakan genetis. Penyakit dalam kandungan. Oleh sebab-sebab lain. Atau, karena dalam peperangan si bayi terkena peluru nyasar sehingga meski terselamatkan ia kehilangan anggota badannya. Umumnya orang tidak mengerti bahwa itu disebabkan oleh hutang-piutang karma atau perbuatan. Memang, ada proses karma.

Pertama si orangtua mempunyai karma negatif, atau karma buruk. Sehingga ketika dia mengandung, janin yang dikandungnya itu cacat. Jadi, yang cacat itu raga si bayi. Sedangkan raga itu sendiri ya tidak ada maknanya. Ketika raga bayi itu cacat, maka jiwa yang dimasukkan ke dalam raga yang cacat itu adalah jiwa yang hutang karma.
Jiwa yang pada kehidupan masa lalunya banyak berbuat keburukan. Bayi yang dilahirkan cacat itu merupakan kaitan karma orangtua dan bayi tersebut. Sama-sama punya karma buruk pada kehidupan masa lalunya. Meskipun hal ini tidak berarti ada kaitan karma buruk antara orangtua dan si bayi pada kehidupan lalunya.
Kembali kepada ayat di atas. Disebutkan bahwa Tuhan mengampuni sebagian besar kesalahan manusia. Apa kaitannya dengan reinkarnasi? Jika Tuhan tidak mengampuni sebagian besar kesalahan manusia, maka manusia tidak akan mengalami kemajuan dalam hidupnya. Bayangkan, jika hutang seratus unit harus dibayar 100 unit; apa yang terjadi? Tak ada perubahan di dalam kehidupan manusia. Tuhan itu Maha Pemaaf. Sehingga, Tuhan tak akan mewujudkan balasan lebih daripada keburukan yang pernah dibuat hamba-Nya. Tuhan bukanlah tukang balas. Namun, kita pun harus paham bahwa mekanisme sebab-akibat itu merupakan ketetapan-Nya.
Dalam bahasa agama, cara kerja alam raya dalam kaitannya dengan sebab dan akibat disebut pemberian pahala untuk kebaikan dan pembalasan atau azab bagi kejahatan. Karena rahman dan rahim-Nya, kebaikan akan mendatangkan kebaikan berlipat ganda, tapi keburukan hanya mengakibat-kan keburukan yang setara atau kurang. Dalam bahasa psikologis alam raya itu bersifat memaafkan. Hal semacam inilah yang disebut dalam Alquran sebagai kebajikan Tuhan. Dia memaafkan sebagian besar kesalahan yang pernah dilakukan manusia.
Pada QS 42: 31, terdapat peringatan dari Tuhan. Apa isinya ? Secara normal, manusia tidak akan dapat meninggalkan bumi ini. Salah satu unsur pembentuk fisik manusia adalah bumi. Maka, secara alami manusia tertarik oleh keindahan bumi. Dan, gaya tarik bumi terhadap unsur-unsur fisik manusia, yaitu bumi, air, api dan udara, sangat kuat. Sehingga manusia cenderung untuk kembali hidup di bumi. Hal semacam ini dikabarkan dalam QS 7:25, bahwa manusia dihidupkan oleh Tuhan di bumi, dimatikan di bumi dan dibangkitkan di bumi juga.
Jikalau manusia hanya mengikuti hukum alam, tidak ada aksi dari manusianya sendiri untuk melepaskan diri dari bumi, maka selamanya ia akan tinggal di bumi. Sehingga, kenikmatan surga pun sebatas kenikmatan yang tersedia di bumi ini. Maka, pada penutup ayat 31 disebutkan bahwa bagi manusia tak ada pelindung dan penolongnya selain Allah. Dengan kata lain, pelindung dan penolong manusia itu hanyalah Allah !
Kata “Allah” dalam Alquran adalah sebutan bagi Tuhan semesta alam. Maka, bagi yang bukan orang Islam tidak perlu rancu terhadap sebeutan Tuhan. Bahkan di Alquran sendiri Tuhan dapat disebut berdasarkan Nama-nama baik-Nya (QS 17: 110).
Bagi khazanah “New Age”, Tuhan disebut sebagai “Sang Maha Diri”, the Absolute Reality atau Absolute Self. Sedang-kan diri manusia itu adalah “sang diri” atau diri sejati saja. Maka, tujuan hidup manusia adalah kembalinya “sang diri” kepada “Sang Maha Diri”.
Perjalanan sang diri kepada Tuhannya dalam hitungan waktu fisik amatlah panjang. Manusia yang sudah terkungkung oleh ruang-waktu, harus menempuhnya dalam hitungan jutaan tahun bumi. Jika satu generasi perlu hadir selama 50–100 tahun, maka perlu puluhan hingga ribuan kali manusia dapat menyempurnakan dirinya.
Dengan kata lain, untuk dapat kembali ke alam kelanggengan atau paling tidak keluar dari bumi manusia perlu dilahir-kan berkali-kali. Manusia perlu mengikuti kala-cakra, atau putaran roda kehidupan di bumi.
Untuk kembali kepada-Nya, hanya dengan cara berlindung kepda-Nya semata. Jika kita masih berlindung kepada yang lain, kepada selain-Nya yang notabene hamba-Nya, maka kita pasti menderita di bumi ini. Makanya, semua agama yang ada memerintahkan manusia untuk berlindung dan mohon pertolongan kepada-Nya semata. Inilah yang disebut tauhid dalam agama Islam. Meng-Esa-kan Tuhan.
Musibah atau bencana di bumi sebenarnya merupakan pelajaran agar manusia dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan. Namanya saja kembali kepada-Nya, maka jalan yang harus ditempuh pun jalan-Nya yang disebut shirâth al-mustaqîm, jalan lurus. Yaitu, jalan untuk hamemayu hayuning bawana dan tidak menghambakan diri kepada yang selain-Nya.
Perhatikan QS al-Rûm [30]: 41 – 45 sebagai berikut.
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Allah bermaksud untuk membuat mereka itu merasakan sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka dapat kembali (kepada jalan-Nya). Katakanlah: “Lakukan perjalanan di bumi dan perhatikan bagaimana akibat perbuatan orang-orang sebelummu. Sebagian besar mereka itu merupakan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
Oleh karena itu, hadapkanlah dirimu kepada agama yang lurus sebelum datangnya hari dari Allah yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir maka ia sendiri yang menanggung kekafirannya, dan bagi yang beramal saleh maka buah kebaikannya untuk dirinya sendiri.
Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang mengingkari-Nya".

Pertama, ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami kerusakan. Apalagi sekarang! Dan, dinyatakan dengan tegas bahwa kerusa-kan itu akibat perbuatan manusia. Bukan disebabkan oleh perilaku hewan. Artinya, potensi kerusakan itu berasal dari manusia. Ya, akibat ulah manusia rusaklah daratan dan laut. Ternyata, kerusakan di darat dan laut itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu) merasakan seba-gian dari akibat perbuatannya. Untuk apa? Agar yang pernah melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan yang benar. Ya, kembali kepada jalan-Nya. Jadi, yang merasakan akibat perbuatannya itu ya yang pernah hidup pada masa lampau dan berbuat kerusakan. Bukan orang yang pertama kali dilahirkan di bumi ini. Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun? Tidak mungkin manusia yang tidak berbuat kesalahan dikenakan azab. Dan, karena kasih-sayang Tuhan pula manusia yang dihidupkan lagi itu merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya. Manusia tidak merasakan seluruh akibat perbuatan buruknya. Hal semacam inilah yang disebutkan pada ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.
Kedua, lagi-lagi kita diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini. Tapi, pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan akibat perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu. Apa kata ayat tersebut? Banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan oleh orang-orang musyrik. Orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Orang yang menyekutukan Tuhan itu adalah orang yang membuat kerusakan di bumi ini. Jelas kan, bahwa mereka bukanlah orang yang beribadah di depan patung?
Jelas, bahwa kemusyrikan itu lebih terkait dengan amal perbuatan manusia. Jika amalan itu merusak bumi, maka itu tindakan syirik. Jika perusakan bumi itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang musyrik alias menyekutukan Tuhan. Agar tidak terjerumus ke jurang kemusyrikan manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada agama, jalan hidup, yang lurus. Yaitu, jalan hidup yang tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Jalan hidup yang demikian inilah yang disebut “islam” (sebagai generik). Dalam kehidupan aktual, islam yang generik ini bisa disebut Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lainnya.

Ketiga, manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus. Di tempat lain disebut sebagai orang yang bertakwa. Usaha ini harus ditempuh sebelum datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat ditolak”. Hari apa gerangan? Itulah hari kematian dan sekaligus kebangkitan seseorang. Karena dalam satu hari orang yang mati itu banyak, maka yang dibangkitkan pun banyak. Di mana dibangkitkan? Ya, di bumi ini ! Lihat kembali QS 7:25.
Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya sendiri-sendiri. Dalam ayat mereka disebut menjadi terpisah-pisah. Dan, disebutkan pada ayat berikutnya bahwa mereka yang kafir ya akan menanggung perbuatan kekafirannya. Yaitu, dilahirkan sebagai manusia yang sengsara. Sedangkan yang dahulunya berbuat amal saleh, ya akan dilahirkan di tempat yang penuh anugerah Tuhan.

Sekarang perhatikan kata musyrik dan kafir. Identik kan? Kalau yang dirujuk itu sikap hidup, maka namanya musyrik. Tapi, kalau yang dirujuk itu keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya kafir. Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk. Agama apa saja yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran atau melakukan kerusakan maka ia termasuk orang kafir!
Keempat, Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar. Perhatikan pernyataan “tidak mencintai”, lâ yuhibbu! Ini tidak dapat diterjemahkan menjadi tidak menyukai. Berbeda! Allah tidak terlibat dalam suka dan tidak suka. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak membenci. Allah itu bersifat mahabbah, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si hamba itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.
Reinkarnasi itu ayat mutasyabihat. Ya, kelahiran kembali itu diungkapkan dalam Alquran secara tersamar. Ayat-ayatnya harus dipikirkan dan direnungkan dalam-dalam. Kalau tidak dipikirkan masak-masak, pasti akan terjerumus pada penerjemahan atau penafsiran yang menyimpang. Ayatnya tidak disampaikan secara berurutan atau sering diselipkan di berbagai topik kehidupan. Makanya, kalau kita tidak jeli membacanya akan kecele.
16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikem-balikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Menge-tahui dan Mahakuasa.”
16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
16:78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, peng-lihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.”
Pertama, pada umumnya orang yang hidup di bumi ini berakhir dengan kematian. Tentu saja, ada yang benar-benar telah wafat, alias telah sempurna hidupnya, sehingga tidak dilahirkan kembali di bumi ini. Tapi, kebanyakan manusia itu dilahirkan kembali. Dalam bahasa ayat di atas dinyatakan sebagai “dikembalikan pada umur yang paling lemah”. Umumnya, kalimat ardzal al-‘umur pada ayat tersebut diartikan “tua-renta”. Sedangkan kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya” diartikan dengan “pikun” atau pelupa karena sudah tua sekali.
Penerjemah biasanya tidak memahami bahasa Indonesia dengan benar. Mereka tidak menyadari bahwa “tua-renta” itu belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan situasi negara kita dewasa ini secara kritis. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah” itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.
Kedua, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah dike-tahui sebelumnya” diartikan dengan “pikun”. Ini salah besar! Orang pikun itu pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau dikerjakannya. Tapi, pikun itu masih ada yang diingat. Bukan tidak ingat sama sekali apa yang pernah diketahui, atau lost memory. Dan, pikun itu sifat yang ada pada orang tua yang telah lanjut usia di mana saja. Namun, tidak setiap orang yang lanjut usia itu pikun. Jadi, tidak mungkin bangsa Arab tidak punya khazanah untuk kata pikun. Dalam bahasa Arab, pikun itu mukharraf.
Jadi, kondisi tua-renta dan pikun itu tidak merupakan pemetaan satu-satu. Artinya, ada orang yang tua-renta tidak pikun, dan ada orang pikun yang masih muda usianya. Makanya, harus kita cari ayat-ayat yang menya-takan “tidak tahu sesuatu pun apa yang pernah diketahuinya” itu dalam kaitan yang lain. Ternyata, pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait dengan pernyataan “dikeluarkan dari perut ibumu”. Artinya, “tidak tahu sesuatu pun” itu dimiliki oleh bayi yang baru dilahirkan. Dan, di ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kondisi ini disebut kebangkitan! Dus, kebangkitan seseorang itu ada di bumi ini, yaitu keluar dari perut ibu.
Kebangkitan adalah kelahiran. Dan, ini cocok dengan makna bangkit itu sendiri. Yaitu, bangkit sebagai manusia kembali.

Dengan adanya kebangkitan atau kelahiran itu, maka orang yang telah mati, dan tulang-belulangnya telah hancur, akan hidup kembali sebagai ciptaan yang baru yang disangkal oleh orang-orang Arab pra-Islam.
Maka, kiamat dalam pengertian kita selama ini sebenarnya kelahiran kembali. Inilah yang disebut reinkarnasi. Dan, kehidupan dunia yang kita alami saat ini adalah akhirat bagi kehidupan masa lalu. Siksa dan pahala yang dialami saat ini merupakan buah perbuatan pada kehidupan masa lalu. Namun Tuhan itu rahman dan rahim, sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya untuk kembali kepada-Nya.

Jika pada kedua ayat tersebut masih samar-samar dan memerlukan kejelian dalam membacanya, maka pada Surah Yâ Sîn [36]: 68 yang biasa dibaca oleh orang Islam pada berbagai kesempatan, hal reinkarnasi itu lebih jelas lagi. Bunyi terjemahan ayatnya, “Dan barangsiapa yang Kami panja-ngkan hidupnya niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?"
Perhatikan! Pemanjangan hidupnya di bumi ini niscaya diikuti dengan kembalinya pada kejadiannya. Yaitu, dilahirkan sebagai bayi! Tapi, meski sudah terang-benderang maknanya, hampir penerjemah Alquran standar memberikan catatan kaki bahwa itu dikembalikan menjadi lemah dan kurang akal. Jelas, ini orang yang ngawur! Mana ada panjang umur selalu diikuti dengan lemah dan kurang akal? Sepikun-pikunnya atau kurang akalnya orang tua, masih lebih cerdas daripada bayi. Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa orang yang telah lanjut usianya belum tentu pikun. Beberapa kepala negara malah masih aktif memimpin, meski umurnya sudah di atas 80 tahun. Tetapi, banyak orang yang baru berusia 60 tahun sudah menunjukkan gejala kepikunan.
Apa arti dikembalikan pada “kejadian”. Bukankah kejadian manusia itu berawal dari seorang bayi? Bagaimana mungkin mereka memahami kejadian sebagi lemah dan kurang akal? Rupanya, mereka itu perlu dididik biologi, agar mereka memahami arti kejadian manusia hingga wafatnya. Mereka perlu diajari membaca kamus dan struktur kalimat bahasa Indonesia. Untuk apa? Agar kalau ada kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” tidak diterjemahkan pikun. Bahasa untuk pikun itu ada di setiap bangsa. Karena, pikun merupakan fenomena yang menimpa orang tua atau lanjut usia.
Bahkan karena sesuatu gangguan, ada orang-orang yang kehilangan ingatan terhadap apa yang pernah diketahuinya. Mereka ini tidak terkait dengan batasan usia. Tapi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada saraf otaknya. Ini kasus! Sehingga, hal semacam ini tidak dimasukkan dalam ayat. Maka, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” harus dicarikan kaitannya pada ayat yang lain. Ini yang namanya menafsirkan ayat Alquran dengan ayat Alquran lainnya. Inilah penafsiran yang paling valid!
Kemudian, kalau kita melihat Surah Yâ Sîn di atas, ayat 68 itu ditutup dengan kalimat “apakah mereka tidak memikirkan”. Kalau kita dalam hidup sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka kita tak perlu memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita ingin mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.
Reinkarnasi dalam Hadis. Selain ayat-ayat Alquran, indikasi adanya reinkarnasi itu dapat kita temukan dalam beberapa Hadis. Di bawah ini saya cuplikkan beberapa Hadis yang ada kaitannya dengan reinkarnasi.
“Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya.” (H.R. Nasai)
“Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” (H.R. Dailami)
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh salat, puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan) dalam hidup mencari rezeki.” (H.R. Ibnu Asakir)
Pertama, meskipun gugur berkali-kali tapi bilamana belum melunasi hutangnya, ia tak akan masuk surga. Perhatikan, kata gugur berkali-kali dan hutang. Secara sederhana umat Islam menerjemahkan hutang itu dalam arti hutang harta-benda. Tidak sepenuhnya benar! Yang jelas, hutang harta-benda itu bagian dari hutang perbuatan (karma).
Dan lagi, pada kalimat di atas tidak dinyatakan “kecuali jika ada hutang, keluarganya melunasinya”. Kalimat ini tidak ada. Yang ada, justru menegaskan bahwa yang gugur itulah yang melunasinya. Jadi, hutang itu tidak dapat dilunasi orang lain. Seseorang tidak menanggung beban atau dosa orang lain. Setiap orang akan menanggung dosanya sendiri. Itulah yang dijelaskan di berbagai ayat Alquran.

Kedua, hidup susah dalam mencari rezeki adalah cara untuk menutupi dosa-dosa. Coba, dosa darimana? Kalau hidup sekarang ini merupakan hidup yang pertama kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang dilahirkan menderita di kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.
Bayak sekali di dunia ini orang yang hidupnya menderita semenjak dilahirkan di bumi ini. Menurut Hadis di atas, penderitaan itu sebenarnya untuk menutupi dosa-dosanya. Dan, dosa-dosa itu sendiri tidak dapat ditutupi oleh ibadah formal. Dosa yang tidak bisa dihapus dengan cara salat, puasa, umrah dan haji. Ini tentu saja dosa yang berat. Sehingga perbuatan ibadahnya pun tak bisa menghapusnya. Dosanya hanya hapus bila dia dilahirkan kembali di bumi ini sebagai orang yang hidup menderita.

Dalam tradisi Islam, kepercayaan adanya reinkarnasi ini banyak dianut kalangan sufi. Mereka percaya bahwa banyak sisipan ayat-ayat dalam kitab Suci yang menyiratkan kebenaran adanya reinkarnasi. Meskipun banyak penyair yang mengutarakannya secara tersembunyi dalam syair-syair yang ditulisnya seperti Jalaluddin Rumi, Ibnu al-arabi, maupun Saadi dari Shiraz.
Reinkarnasi saat ini telah menjadi pembahasan ilmiah kalangan intelektual barat. Dan beberapa perguruan tinggi di dunia barat mencantumkan permasalahan paranormal, termasuk didalamnya tentang reinkarnasi sebagai mata kuliah pada fakultas kedokteran dan psikologi. Penelitian yang logis, objektif dan tentu saja netral telah mampu menepis secara perlahan tentang kemustahilan adanya reinkarnasi. Para peneliti telah menemukan bukti bahwa reinkarnasi bukanlah merupakan sesuatu yang takhayul, dan benar-benar ada dalam kehidupan manusia. Reinkarnasi berlaku untuk semua makhluk hidup. Hal ini didukung adanya fakta bahwa seluruh responden yang diterapi dengan metode Past Life Regression (regresi kehidupan lampau, yang membantu mengobati trauma atau sakit yang diderita) menunjukan reaksi yang diluar pemikiran akal, yaitu secara sadar, walau dalam kondisi terhipnosis, menceritakan fragmen-fragmen kehidupan mereka pada kehidupan sebelum saat ini.
Beberapa orang percaya bahwa ada jiwa-jiwa di antara kita yang baru mengalami kehidupan pertama mereka di Bumi (belum pernah inkarnasi) dan ada juga beberapa jiwa yang lebih berpengalaman yang telah tinggal berkali-kali sebelumnya (jiwa tua, biasanya dialami orang-orang Indigo). Nah, ini adalah pertanyaan yang harus Anda cari sendiri ketika mencoba untuk menentukan apakah Anda sudah pernah tinggal di kehidupan sebelumnya.
1. Anda memiliki mimpi yang sama berulang-ulang
Mimpi adalah refleksi dari hal-hal yang Anda lihat dalam hidup Anda, itu bukan sekedar ‘bunga tidur’. Apakah Anda tahu, meski semua tampak sangat asing, setiap momen dalam mimpi Anda adalah kejadian yang telah Anda lihat sebelumnya. Ini fakta yang memaksa saya untuk menambahkan mimpi berulang untuk artikel ini. Apakah Anda memiliki mimpi aneh yang terjadi berulang-ulang ketika tidur? Apakah orang-orang dan tempat-tempat dalam mimpi ini muncul untuk mewakili periode tertentu dalam sejarah? Ini mungkin merupakan tanda bahwa jiwa Anda mengingat kenangan dari kehidupan Anda sebelumnya.

2. Intuisi Anda kuat dan sangat berguna. Intuisi berasal dari kemampuan untuk memanfaatkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang tidak tersedia bagi kita untuk mengartikulasikan. Kadang-kadang kemampuan dan kebijaksanaan datang dari pengalaman yang sudah pernah Anda alami dalam hidup Anda, tapi itu tidak selalu terjadi. Mereka yang cenderung bijaksana dan bisa mengendalikan ego berarti berjiwa matang (old soul). Jika Anda memiliki intuisi yang kuat, mungkin merupakan indikasi bahwa jiwa Anda sudah memiliki pengalaman masa lalu, hanya perlu untuk dilatih kembali.
3. Beberapa kenangan seperti muncul kembali dari tempat yang dikunjungi. Hal ini cukup sering terjadi khususnya pada anak-anak. Anak-anak jauh lebih dekat ke titik persimpangan jiwa daripada orang dewasa, dan mereka sering mampu mengingat lebih mudah hal-hal dari masa lalu. Saat masih kecil atau sekarang, apakah Anda memiliki kenangan saat Anda berkunjung ke suatu tempat tertentu? Seperti tiba-tiba muncul ikatan emosi dengan tempat itu? Memiliki tempat kenangan sepertinya tidak asing umumnya terjadi pada orang yang telah memiliki kehidupan masa lalu, padahal kehidupan saat ini belum pernah mengunjungi tempat itu.
4. Anda sering mengalami déjà vu. Hal ini terjadi untuk semua orang di beberapa titik atau lebih. Déjà vu yang jelas merupakan indikasi bahwa Anda sudah pernah berada di suatu tempat sebelumnya, bertemu dengan seseorang sebelumnya, dan hal itu berdampak pula pada pengetahuan Anda tentang hal-hal tertentu, meskipun Anda belum pernah belajar dalam hidup ini.
5. Anda sangat empatik. Orang yang memiliki perasaan empatik memiliki sensitifitas tinggi. Mereka sering langsung merasakan pengalaman orang-orang di sekitar mereka. Kadang-kadang orang menggunakan empatinya untuk melupakan masalah mereka sendiri dan memiliki rasa welas asih kepada orang lain. Tapi itu bisa menjadi tanda nyata bahwa jiwa Anda memiliki inkarnasi sebelumnya dan lebih diarahkan untuk perdamaian dunia daripada diri sendiri.
6. Anda sering mengalami prekognisi. Prekognisi, juga disebut visi masa depan atau visi kedua, adalah kemampuan sebagian dari kita untuk mendapatkan informasi tentang peristiwa yang akan terjadi di masa depan yang umumnya belum pernah terpikirkan. Seseorang mengalami prekognisi melalui visi (penglihatan), perasaan, dan kadang-kadang lewat mimpi. Beberapa menganggapnya sebagai fenomena pseudo-science (parapsikologi), itu pertanda bahwa jiwa Anda telah tumbuh dewasa dan penuh energi wawasan.
7. Anda juga mengalami retrokognisi. Retrokognisi berlawanan dengan prekognisi. Retrokognisi memungkinkan Anda untuk mengakses informasi dan rincian dari peristiwa masa lalu Anda sendiri. Retrokognisi sangat sulit dibuktikan, tidak seperti prekognisi. Terlepas dari seberapa baik Anda sudah bisa membuktikan kepada orang lain, tapi mengalami retrokognisi adalah tanda kuat bahwa Anda telah menjalani kehidupan masa lalu.
8. Anda “lebih bijaksana melampaui usia Anda”
Pengalaman ini disebut teori “Soul Age”, yang menjelaskan bahwa jiwa yang telah bereinkarnasi berkali-kali mendapatkan usia yang jauh melampaui kepribadian kita. Jika Anda dilahirkan sebagai seorang jiwa yang baru, Anda mudah sekali terlihat dari perilaku dan cara bersikap dalam menyikapi masalah. Jika Anda seorang jiwa yang lebih tua, itu berarti menunjukkan Anda telah bereinkarnasi berkali-kali. Salah satu tandanya adalah tidak suka menyalahkan dan selalu memiliki cara pandang dalam banyak sudut.

9. Anda memiliki ketertarikan pada suatu masa atau budaya tertentu. Ketika Anda masih kecil, apakah Anda memiliki ketertarikan pada periode waktu atau budaya? Apakah Anda menyukai gaya tahun 1950-an? Apakah Anda merasa sangat terhubung dengan budaya lain, yang saat ini masih ada atau tidak lagi ada? Anda bahkan mungkin memiliki perasaan aneh, tentang jenis pekerjaan tertentu atau karyawan dari suatu profesi tertentu. Afinitas ini mungkin semacam residu kenangan dari kehidupan masa lalu yang mungkin cukup membahagiakan untuk Anda. Jika Anda tidak bahagia, Anda tidak mungkin memiliki ‘perasaan aneh’ untuk itu dalam hidup ini, bukan? Pelajari apa yang perlu diketahui. Anda mungkin memiliki beberapa kebijaksanaan mendalam yang terkubur di dalam ingatan Anda.
10. Anda memiliki phobia yang tidak bisa dijelaskan
Saya sendiri memiliki fobia ketinggian dan suara ledakan keras. Jika Anda dapat mengingat tempat yang membuat trauma dari kehidupan masa lalu Anda, yang terus menghantui mimpi Anda, maka tidak ada alasan untuk terus mengingatnya hari ini dan seterusnya. Renungkan rasa takut dan cobalah menghadapinya. Putuskan siklus inkarnasi jiwa Anda saat ini, agar tidak ada lagi beban yang harus dibawa saat menyusuri perjalanan ke dimensi lebih tinggi.

11. Anda tidak merasa berada di rumah. Tidak hanya di rumah, tetapi juga di kota Anda. Bahkan di negara Anda, benua, atau budaya saat ini. Kerinduan untuk pergi ke ‘kampung halaman’ mungkin merupakan tanda bahwa jiwa Anda memiliki kecintaan budaya atau periode waktu tertentu yang tidak mungkin lagi Anda miliki. Jiwa yang pernah bereinkarnasi mungkin merasa memiliki keinginan yang mendalam untuk kembali ‘bernostalgia’ dengan kehidupan masa lampau.
12. Anda tidak memiliki hubungan kuat dengan orang tua Anda. Yang satu ini hampir secara pasti dialami anak-anak. Sebagai seorang anak, Anda mungkin seharusnya mencintai dan menghormati orang tua Anda, tetapi Anda tidak memiliki rasa ketertarikan untuk mereka. Mengapa? itu berarti inkarnasi Anda sebelumnya mengalami kematian saat usia belia, dan belum sempat mengenal orang tua Anda. Apakah Anda pernah bermimpi memiliki orang tua lainnya? Bisakah Anda mengingat nama-nama mereka dan dimana mereka tinggal?Ini merupakan tanda yang mengarah bahwa Anda pernah lahir di kehidupan sebelumnya.
Ada banyak keyakinan tentang reinkarnasi. Beberapa orang percaya bahwa kita berulang kali bereinkarnasi sebagai manusia sampai kita benar-benar belajar tentang pelajaran kehidupan sejati dan kemudian berpindah ke dimensi lain yang lebih tinggi dari keberadaan. Anda tidak harus percaya dengan artikel ini. Tapi, akan lebih baik Anda untuk lebih percaya kepada ketentuan (qadha’ dan qadar) Tuhan YME dan mencatat setiap pengalaman Anda sendiri, karena alam semesta ini penuh dengan banyak misteri yang kadang tidak masuk akal. Dalam hidup, kita tidak boleh berhenti belajar mengenali diri kita sendiri dan hal-hal di sekitar kita. Karena setiap pengalaman semasa kita hidup adalah guru terbaik bagi kita agar jauh lebih memahami hakikat kehidupan (Haqqul Yaqin)
Sebetulnya banyak sekali roh dari manusia di kehidupannya yang sekarang ini menjalani kehidupan ke sekian ratus atau bahkan ke sekian ribu kalinya sebagai wujud manusia. Memori kehidupan-kehidupan di masa lalu dari setiap manusia sebenarnya telah ada tersimpan dengan rapi di dalam labirin otaknya. Hanya saja, tidak semua manusia bisa dengan mudah atau mampu untuk mengakses memori kehidupan masa lalunya (seolah-olah ada semacam tirai/hijab yang menyelimuti memori ini).
Dalam melakukan penjelajahan mencari sebuah pencerahan spiritual, manusia akan menempuh jalan yang berbeda-beda karena memang spiritualitas bersifat individualistis. Setiap manusia mempunyai sejarah hidup yang berbeda sejak dilahirkan, dan lingkungan adalah salah satu sebab terjadinya perbedaan tersebut. Hukum reinkarnasi akan menempatkan manusia pada perbedaan lingkungan sesuai karmanya. Walau demikian, perbedaan adalah sebuah keunikan. Setiap individu mempunyai kehendak bebas yang tidak bisa dipaksakan. Setiap manusia mempunyai cara masing-masing dalam mencari pencerahan batinnya. Jalan yang telah ditempuh orang lain belum tentu baik untuk orang lain, karena kegelisahan seseorang dalam pencarian jati diri tentu berbeda-beda.
Melalui terapi ilmiah psikologi, memori masa lalu di otak ini bisa diakses dengan cara hipnoterapi dengan metode Past Life Regression (regresi kehidupan masa lalu). Beberapa atribut kelebihan dan kekurangan yang Anda bawa dalam kehidupan ini berasal dari kehidupan Anda sebelumnya. Karena semuanya merupakan pengalaman yang akan bisa membuat Jiwa belajar dan berpengalaman supaya menjadi ‘bijaksana’. Berikut adalah cara untuk menentukan usia jiwa Anda.
1. Jiwa baru lahir. Jiwa yang baru lahir adalah jiwa baru yang masih baru menjalani hidup pertama kali. Dalam hidup ini, jiwa difokuskan pada kelangsungan hidup, kematian, dan dalam beberapa kasus, mementingkan kecantikan/penampilan.
Jiwa baru lahir cenderung lucu, bersemangat, lugu, dan kadang liar, namun pada saat yang sama sangat berorientasi pada keluarga dan berhati-hati.
2. Jiwa bayi. Jiwa-jiwa bayi yang telah hidup dalam beberapa kehidupan sangat banyak berfokus pada perasaan saling memiliki, berkumpul bersama teman/berkelompok mereka. Mereka ingin belajar tentang aturan, peran, hubungan serta struktur sosial. Mereka cenderung mematuhi, disiplin, dan memiliki nilai yang kuat.
3. jiwa muda. Sifat jiwa muda, sama seperti kita saat remaja berusia 20 tahunan, berfokus pada kemerdekaan dan kemajuan pribadi. Jiwa muda memiliki keinginan untuk belajar, mengembangkan diri, dan mengekspresikan kehendak bebas mereka. Mereka ambisius, inovatif, giat, kadang-kadang egois dan berapi-api.
4. jiwa dewasa. Sifat Jiwa dewasa seperti orang yang sudah berumur setengah baya. Mereka mencari keharmonisan dalam hidup mereka dan memiliki fokus pada hubungan, kesadaran diri, dan berempati dengan orang lain. Mereka sensitif, diplomatik, dan kadang-kadang sedikit neurotik.
5. Jiwa tua. Orang yang berjiwa tua memiliki sifat lebih mencari spiritualitas, kedamaian batin, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, atau mementingkan perasaan kesatuan universal dan saling keterkaitan dengan sesama makhluk. Mereka bijaksana, sadar lingkungan sekitar, dan tidak terikat dengan hal-hal. Mereka cenderung soliter, pendiam, dan filosofis. Mereka adalah akhir dari siklus reinkarnasi.
Bagaimana kita secara pribadi bisa mengetahui masa lalu kita ? Apakah memang betul, kita bisa mengakses kehidupan kita dimasa lalu, sampai berapa periode kehidupan kah kita bisa mengetahui jati diri kita di kehidupan yang lalu ? Mungkin ini sedikit banyak pertanyaan tentang perkara Reinkarnasi, yang muncul dibenak kita yang belum pernah mencoba menelusuri tentang kehidupan masa lalu.
Mungkin diantara kita sudah ada yang mencoba menelusurinya tapi belum juga menemukan siapa sesungguhnya diri kita di kehidupan sebelum jasad ini.
Baiklah, saya akan share salah satu teknik untuk mencari siapa kita di kehidupan sebelum ini.
Ada teknik yang paling sederhana dan simpel untuk mengetahui siapa kita dahulunya sebelum di Jasad kita yang sekarang.

Pertama-tama duduklah bersila dan cari posisi yang paling santai dan relax.
Niatkan dalam hati untuk mengetahui, siapa diri kita sebelum di jasad kita yang sekarang ini.
Kemudian atur nafas sealamiah mungkin, sehingga kita sudah tidak memperhatikan nafas lagi. Pejamkan mata, pusatkan perhatian di "pandangan batin" kita di dalam. Masukilah memori kita dengan mengingat kehidupan kita saat ini di Jasad kita yang sekarang.
Flasback lah (mengingat mundur) semua moment kehidupan kita yang sekarang, baik yang suka maupun duka. Maka akan muncul gambaran-gambaran "Golden Age" atau suasana atau kejadian apapun itu yang pernah menggores kehidupan kita saat ini, mulai dari yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Memang kita tidak akan mampu untuk menghadirkan semua gambaran-gambaran dalam hidup kita saat ini, apalagi kehidupan kita yang lalu, di satu kehidupan sebelum kita di Jasad ini. Di dua kehidupan, tiga kehidupan bahkan di seribu kehidupan sebelum kita sekarang. Oleh karena itu kuncinya adalah "Golden Age" tadi, yaitu fase dalam kehidupan kita yang berkesanlah yang akan muncul diawal-awal kita melakukan teknik ini.
Kemudian teruslah flasback, mengingat mulai dari usia kita sekarang, mundur sampai usia kita paling dini. Di usia berapakah "Golden Age" itu akan menampilkan gambar-gambar kehidupan kita dimasa lalu, dalam jasad kita yang sekarang.
Setelah kita menemukan gambaran akan diri kita yang paling akhir, misalkan diusia 1 atau 2 tahun. Panteng atau tatap dengan tatapan batin kita gambar itu. Hingga gambar itu hilang.
Maka yang terjadi adalah kita akan memasuki Lorong seperti "WormHole" atau Lubang Cacing yang akan membawa kita pada era antah berantah, "Golden Age" di kehidupan kita sebelum hidup di Jasad ini. Kapan itu, untuk pertama kali mungkin kita belum akan mengetahuinya, makanya disini harus jeli dan teliti menggali informasi di dalam diri sendiri, sebanyak-banyaknya.
Lihat sekelilingnya, amati dengan seksama gambar-gambar yang muncul itu. Ditahap awal, kita seperti menonton televisi, buat yang tingkat kekuatan batinnya, atau karepnya lemah. Maka gambar itu hanya berupa gambar "Hitam putih" dan sangat samar. Tapi bagi yang sudah kuat karepnya, serta energi batin yang sudah terolah dengan baik. Maka akan menyaksikan gambar sangat jelas, berwarna-warni seperti nonton TV saat. TV plasma yang 52 In atau bahkan seperti nonton Film di bioskop 21. Semakin kuat energi batin kita, maka bukan hanya visual yang akan muncul, audio pun akan muncul, dan kita pun bisa mencium aroma gambaran dalam batin kita itu.
Nanti kita akan menemukan seseorang yang memiliki ikatan rasa yang kuat dengan kita, hingga kita yakin bahwa dia adalah kita.
Galilah informasi itu sebanyak-banyaknya. Tanyakan namanya, di era apa itu, di kerajaan manakah, perhatikan pakaiannya. Perhatikan bahasanya dan sebagainya. Setelah lengkap, telusuri lebih dalam lagi, bahkan kita bisa menyatu dgn gambar itu, disini sudah tidakk ada lagi yang melihat. Atau kita sebagai pengamat akan melebur dengan yang diamati. Selamat mencoba.
*Dikompilasi dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar